Tekad untuk tidak berkata yang tidak benar

Read Time:4 Minute, 55 Second
Tekad untuk tidak berkata yang tidak benar

Tekad untuk tidak berkata yang tidak benar

Berbagi

Aku bertekad akan melatih diri menghindarikan diri dari berbohong. Seorang umat awam hendaknya menghindari perkataan yang tidak benar dan selalu mengucapkan kata-kata yang sopan. Sehingga, di dalam hidup bermasyarakat akan tercipta suasana yang tenang, karena tidak ada kebohongan di antara semuanya. Musavada telah terjadi bila terdapat empat faktor yang terdiri dari:

  • Sesuatu atau hal yang tidak benar.
  • Mempunyai niat untuk menyesatkan.
  • Berusaha untuk menyesatkan.
  • Orang lain jadi tersesat.

“Seseorang seharusnya mengucapkan hanya ucapan yang menyenangkan, ucapan yang disambut dengan gembira. Ketika diucapkan tidak membawa keburukan, apa yang diucapkan adalah menyenangkan bagi orang lain”.

(Saṁyutta Nikāya, 2010 : 287)

“न चेव नो चित्तं विपरिणतं भविस्सति, न च पापिकं वाचं निच्छारेस्साम, हितानुकम्पी च विहरिस्साम मेत्तचित्ता, न दोसन्तरा। तञ्‍च पुग्गलं मेत्तासहगतेन चेतसा फरित्वा विहरिस्साम, तदारम्मणञ्‍च सब्बावन्तं लोकं मेत्तासहगतेन चित्तेन विपुलेन महग्गतेन अप्पमाणेन अवेरेन अब्याबज्झेन [अब्यापज्झेन (सी॰ स्या॰ पी॰), अब्यापज्‍जेन (क॰) अङ्गुत्तरतिकनिपातटीका ओलोकेतब्बा] फरित्वा
विहरिस्सामा’ति। एवञ्हि वो, भिक्खवे, सिक्खितब्बं।”

‘na ceva no cittaṃ vipariṇataṃ bhavissati, na ca pāpikaṃ vācaṃ nicchāressāma, hitānukampī ca viharissāma mettacittā, na dosantarā. Tañca puggalaṃ mettāsahagatena cetasā pharitvā viharissāma, tadārammaṇañca sabbāvantaṃ lokaṃ mettāsahagatena cittena vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyābajjhena pharitvā viharissāmā’ti. Evañhi vo, bhikkhave, sikkhitabbaṃ.

Pikiran kami teguh dan tidak akan terpengaruh oleh Ucapan yang tidak luhur, Tidak pula berucap dikarenakan rasa takut ataupun karena berpikir bahwa hal itu menguntungkan diri sendiri [keterpihakan].

kami akan membiarkan batin ini senantiasa dalam kedamaian, rasa persahabatan serta keramahan, bukan sebaliknya didalam yang jahat dan tidak luhur. Biarlah batin ini sepenuhnya berdiam didalam cinta kasih, Sebuah kesadaran – pencerahan batin yang agung dan luhur didalam kasih sayang,
Yang dikembangkan dengan baik dalam batin ini, yang diarahkan kesegenap alam secara merata, luas tak terbatas

Tanpa adanya rasa permusuhan ataupun kedengkian yang tersisah,
Tanpa adanya kekejaman atau niat melukai sedikitpun.
Namun, sepenuhnya berdiam didalam kedamaian dan kebaikan.

Demikianlah O para bhikkhu, engkau sekalian seharusnya melatih diri.

Tetapi seorang bhikkhu mudah dikoreksi bila ia menghormat, memuja dan sujud pada Dhamma. Itulah sebabnya, para bhikkhu harus melatih diri: ‘Kami akan mudah dikoreksi karena menghormat, memuja dan sujud pada, Dhamma.’
Para bhikkhu, ada lima macam ucapan yang mungkin ditujukan orang lain kepadamu; mereka berbicara :

  • pada waktu tepat atau pada waktu tidak tepat.
  • benar atau tidak benar.
  • lembut atau kasar.
  • berhubungan dengan kebaikan atau mencelakakan.
  • disertai dengan pikiran cinta kasih atau benci.

Bila ada orang berbicara dengan lima macam ucapan itu, para bhikhu harus melatih diri mereka: ‘Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami tidak akan mengucapkan kata-kata buruk dan kami akan tetap penuh kasih sayang demi kesejahteraan (banyak orang) dengan pikiran diliputi cinta kasih tak ada kebencian. Kami akan memancarkan pikiran cinta kasih kepada orang itu; kami akan meliputi diri dengan cinta kasih yang banyak, penuh dan tak terbatas tanpa kejahatan atau iri hati untuk semua makhluk di alam semesta ini, sebagai obyeknya.’

Demikian pula, bila ada penjahat yang dengan buas memotong tangan dan kaki dengan gergaji, ia yang membangkitkan kebencian karena hal itu tidak akan dapat melaksanakan ajaranku. Inilah caranya kamu sekalian harus melatih diri: ‘Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami … untuk semua makhluk di alam semesta ini sebagai obyeknya.’
Para bhikkhu, ingatlah selalu uraian ini sebagai Perumpamaan Gergaji.

Dalam kehidupan sehari-hari kita hendaknya berbicara dengan benar dan gembira. Suatu perkataan itu mengandung makna dan bermanfaat. Sehingga orang yang mendengar akan senang dengan ucapan kita. Dalam Kakacūpama Sutta, Majjhima Nikāya 1, Buddha mengatakan bahwa, ucapan benar dapat terjadi apabila terdapat lima syarat sebagai berikut:

  • Ucapan itu tepat pada waktunya.
  • Ucapan itu sesuai kebenaran.
  • Ucapan itu lembut.
  • Ucapan itu bermanfaat.
  • Ucapan itu penuh cinta kasih.

Dalam lingkungan pekerjaaan pun sebagai guru kita hendaknya berbicara dengan benar dan *gembira ilmu yang kita dapat bisa di sampaikan dengan baik ke siswa/i. Suatu perkataan itu mengandung makna dan bermanfaat tidak membuat siswa/I merasa Kecawa atau tersudutkan atau menjudgesnya atau mengintimidasi. Sehingga Siswa/I yang mendengar akan senang dengan ucapan dan bisa memanfaatkan ilmu yang di dapat.
Seorang guru hendaknya menyampaikan kalimat atau kata yang memiliki makna dan ilmu sehingga tidak membuat atau merasa seorang murid Kecawa atau tersudutkan atau terintimidasi atau menjudgesnya.

Nb:
Bicara Tidak Dengan Menggunakan EMOSI atau Temprament tinggi

Penjelasan di atas merupakan syarat dari Ucapan Benar. Seorang umat Buddha sebaiknya melakukan suatu pengucapan sesuai lima syarat di atas. Ucapan benar akan menimbulkan Kebijaksanaan, menciptakan perdamaian, dan menjauhkan perpecahan.
Ucapan yang tidak benar ini akan menimbulkan Kamma buruk bagi pelakunya. Pelaku bisa tidak dipercayai oleh orang lain dan menderita karena dia telah mengucapkan perkataan yang tidak benar. Untuk itu hindarilah ucapan berbohong dan selalu mengucapkan kata-kata yang benar dan bermanfaat.

Sebagi Pendidik hendaknya kita menyampaikan kata-kata atau kalimat – kalimat yang berguna bagi siswa/i seperti:

  • Ilmu yang kita telah pelajari atau mata pelajaran yang akan di berikan
  • Kalimat motivasi dan inovasi
  • Kalimat yang Tidak menyudutkan atau menjudges atau membuat kecewa atau mengintimidasi siswa/I

Sebagai umat awam kita hendaknya melakukan hal hal tersebut:

  • Ucapan itu tepat pada waktunya.
  • Ucapan itu sesuai kebenaran.
  • Ucapan itu lembut.
  • Ucapan itu bermanfaat.
  • Ucapan itu penuh cinta kasih.
  • Serta Menjalankan Pancasilla Buddhist dan Pancadharma atau Attasilla

Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, maka ia dapat dikatakan bijaksana; tetapi bila orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana, sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.

( Dhammapada V, 4 )


Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana, namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma, bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur.

( Dhammapada V, 6 )

Berbagi
0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *