Pandangan agama buddha terhadap Kecerdasan Buatan

Read Time:5 Minute, 37 Second
Pandangan agama buddha terhadap Kecerdasan Buatan

pandangan agama buddha terhadap Kecerdasan Buatan

Berbagi

Banyak orang di seluruh dunia sudah mulai mencemaskan perkembangan pesat teknologi robotik, yakni teknologi yang menghasilkan berbagai jenis robot yang memiliki kecerdasan buatan dalam berbagai tingkatan. Belum lama ini bahkan sekelompok orang Kristen evangelikal yang berdiam dekat North Carolina, USA, membeli sebuah robot cerdas yang seperti manusia, robot humanoid, seharga USD 16.000, yang dinamakan robot Nao, untuk mempelajari dan menyelidiki dampak robot-robot humanoid dan kecerdasan buatan (artificial intelligence, ditulis singkat AI) pada manusia. Robot Nao adalah suatu robot seperti manusia, robot humanoid, yang dapat diprogram secara otonom, yang diciptakan oleh perusahaan Aldebaran Robotics (Paris, Prancis). Sejauh ini sudah terjual 200 unit lebih robot Nao yang digunakan di universitas-universitas di seluruh dunia.

Pengertian Robot

Robot berasal dari kata “robota” yang dalam bahasa Ceko yang berarti budak, pekerja atau kuli. Pertama kali kata “robota” diperkenalkan oleh Karel Capek dalam sebuah pentas sandiwara pada tahun 1921 yang berjudul RUR (Rossum’s Universal Robot). Pentas ini mengisahkan mesin yang menyerupai manusia yang dapat bekerja tanpa lelah yang kemudian memberontak dan menguasai manusia. Istilah “robot” ini kemudian mulai terkenal dan digunakan untuk menggantikan istilah yang dikenal saat itu yaitu automation. Dari berbagai litelatur robot dapat didefinisikan sebagai sebuah alat mekanik yang dapat diprogram berdasarkan informasi dari lingkungan (melalui sensor) sehingga dapat melaksanakan beberapa tugas tertentu baik secara otomatis ataupun tidak sesuai program yang di inputkan berdasarkan logika.

Pandangan ilmu pengetahuan tentang Robot

Robot humanoid Nao yang ternyata menyentuh hati banyak mahasiswa karena kemampuannya memperlihatkan benih-benih sifat-sifat insani. Menurut Dr. Kevin Staley dari Southern Evangelical Seminary di Matthews, North Carolina, tujuan proyek pembelian satu unit robot Nao oleh komunitasnya adalah “untuk menyelidiki dampak potensial yang akan timbul dari teknologi semacam ini bagi manusia dan masyarakat mereka” dan juga untuk “memulai suatu percakapan dengan komunitas-komunitas keagamaan lain mengenai perkembangan dan pemanfaatan robot-robot.”

Semula, robot-robot dikonstruksi manusia (tentu lewat industri robotik milyaran USD di berbagai negara maju) untuk menolong manusia supaya bisa hidup lebih baik, lebih sehat, lebih tangguh, lebih terlayani, lebih terhibur, lebih relaks, lebih cepat, lebih efisien, lebih bersih, lebih terawat. Dengan kata lain, semula robot digagas sebagai pembantu manusia untuk manusia dapat hidup dengan lebih insani, lebih manusiawi. Dalam kegiatan-kegiatan manufakturing dan industri, robot diciptakan sebagai alat-alat bantu yang dapat bertindak presisi, sangat cermat, sesuatu yang jarang atau mustahil dicapai tangan dan mata manusia saja. Di Indonesia, sekian dasawarsa lalu sempat timbul debat pro dan kontra ketika banyak perusahaan mau melakukan robotisasi atas banyak bidang usaha mereka. Yang menjadi isu menonjol waktu itu adalah ketakutan akan makin berlipatgandanya angka pengangguran di Indonesia karena robotisasi.      Sejauh robot-robot itu masih bekerja secara mekanistik saja sesuai perintah manusia yang disampaikan lewat peralatan computing, teknik sensor, atau lewat program-program perintah dari jarak jauh, tidak akan ada persoalan serius yang muncul dari dunia robotik.

C.      Pandangan agama Buddha tentang Robot

Kebenaran yang ada dalam Dhamma. Istilah ehipassiko ini tercantum dalam Dhammanussati (Perenungan Terhadap Dhamma) yang berisi tentang sifat-sifat Dhamma.Guru Buddha mengajarkan untuk menerapkan sikap ehipassiko di dalam menerima ajaranNya. Guru Buddha mengajarkan untuk ”datang dan buktikan” ajaranNya, bukan ”datang dan percaya”. Ajaran mengenai ehipassiko ini adalah salah satu ajaran yang penting dan yang membedakan ajaran Buddha dengan ajaran lainnya.      Salah satu sikap dari Guru Buddha yang mengajarkan ehipassiko dan memberikan kebebasan berpikir dalam menerima suatu ajaran terdapat dalam perbincangan antara Guru Buddha dengan suku Kalama berikut ini: “Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, `Petapa itu adalah guru kami. `Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, `Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan`, maka sudah selayaknya kalian menerimanya.”(Kalama Sutta; Anguttara Nikaya 3.65)     Sikap awal untuk tidak percaya begitu saja dengan mempertanyakan apakah suatu ajaran itu adalah bermanfaat atau tidak, tercela atau tidak tecela; dipuji oleh para bijaksana atau tidak, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, adalah suatu sikap yang akan menepis kepercayaan yang membuta terhadap suatu ajaran. Dengan memiliki sikap ini maka nantinya seseorang diharapkan dapat memiliki keyakinan yang berdasarkan pada kebenaran.      Ajaran ehipassiko yang diajarkan oleh Guru Buddha juga harus diterapkan secara bijaksana. Meskipun ehipassiko berarti ”datang dan buktikan” bukanlah berarti selamanya seseorang menjadikan dirinya objek percobaan. Sebagai contoh, ketika seseorang ingin membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan, merusak, bukan berarti orang tersebut harus terlebih dulu menggunakan narkoba tersebut. Sikap ini adalah sikap yang salah dalam menerapkan ajaran ehipassiko. Untuk membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan, merusak, seseorang cukup melihat orang lain yang menjadi korban karena menggunakan narkoba. Melihat dan menyaksikan sendiri orang lain mengalami penderitaan karena penggunaan narkoba, itu pun suatu pengalaman, suatu pembuktian.

Dari pandangan ilmu pengetahuan bahwa robot dipergunakan untuk untuk menolong manusia supaya bisa hidup lebih baik, lebih sehat, lebih tangguh, lebih terlayani, lebih terhibur, lebih relaks, lebih cepat, lebih efisien, lebih bersih, lebih terawat. Dengan kata lain, semula robot digagas sebagai pembantu manusia untuk manusia dapat hidup dengan lebih insani, lebih manusiawi. Dalam kegiatan-kegiatan manufakturing dan industri, robot diciptakan sebagai alat-alat bantu yang dapat bertindak presisi, sangat cermat, sesuatu yang jarang atau mustahil dicapai tangan dan mata manusia saja. Sedangkan dalam pandangan agama Buddha penerapan sikap ehipassiko seperti yang diajarkan Guru Buddha di dalam menerima ajaran-Nya. Guru Buddha mengajarkan untuk “datang dan buktikan” ajaran-Nya, bukan “datang dan percaya”.             Kalama Sutta memberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti oleh pencari kebenaran dan berisikan standar yang digunakan untuk menilai segala sesuatu. Kalama Sutta merupakan kerangka dasar Dhamma. Empat penghiburan yang diajarkan di sutta itu menyebutkan batasan yang diizinkan Sang Buddha untuk meragukan penilaian mengenai hal-hal di luar kognisi normalnya. Penghiburan itu menunjukkan bahwa alasan bagi kehidupan yang bermoral tidak harus bergantung atas kepercayaan terhadap kelahiran-kembali atau sebab-akibat, melainkan atas kesejahteraan mental yang diperoleh setelah mengatasi keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.             Bahwa seseorang jangan hanya percaya pada hal yang didengarnya. Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu telah dibicarakan dan digunjingkan oleh banyak orang. Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu tertulis dalam kitab-kitab keagamaanmu. Jangan percaya hal apapun hanya karena hal itu dikatakan berdasarkan otoritas guru-guru dan sesepuh-sesepuhmu. Jangan percaya tradisi apapun hanya karena tradisi itu telah diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Tetapi setelah kamu observasi dan analisis, maka ketika kamu mendapati hal apapun sejalan dengan akal-budimu dan menolongmu untuk mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi satu dan semua orang, maka terimalah itu dan jalankanlah.”

Berbagi
0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *