Mencontek dalam pandangan agama buddha

Read Time:6 Minute, 56 Second
Mencontek dalam pandangan agama buddha

mencontek dalam pandangan agama buddha

Berbagi

Perilaku belajar merupakan suatu tindakan tidak terlepas dari kehidupan manusia. Perilaku dapat terlihat dari perbuatan yang dilakukan dalam bentuk baik dan buruk. Baik buruknya perilaku disebabkan oleh kebiasaan. Kebiasaan yang sering dilakukan dipengaruhi oleh kehendak dari dalam diri seseorang. Pikiran baik yang tertuang melalui ucapan, dan perbuatan jasmani sangat penting untuk dipraktikan. Pelaksanaan tersebut dapat tercermin dari bentuk perilaku belajar yang dipraktikan siswa di sekolah. Bentuk perilaku belajar tersebut dapat tercermin melalui aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Jadi perilaku belajar tidak sekedar terjadi perubahan pada aspek pengetahuan, tetapi terjadi perubahan sikap, dan keterampilan. Keterampilan dapat tercermin melalui praktik dalam bentuk tindakan.

Salah satu bentuk praktik yang dapat dilakukan yaitu dengan melaksanakan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila Buddhis merupakan lima aturan moralitas Buddhis. Kelima aturan moralitas Buddhis dapat menjadi suatu pedoman bagi siswa dalam melakukan kegiatan belajar.

Pemahaman Pancasila Buddhis sebagai lima latihan moral yang menjadi pedoman,mengembangkan cinta kasih, melakukan usaha benar, puas dengan apa yang dimiliki, jujur, sadar, dan perhatian.

Pemahaman Pancasila Buddhis sangat diperlukan untuk memperbaiki perilaku siswa terutama dalam perilaku belajar. Pancasila merupakan dasar utama melaksanakan ajaran Agama. Pancasila mencakup semua perilaku dan sifat-sifat yang baik termasuk dalam ajaran moral Agama Buddha. Buddha bersabda bahwa, “Barang siapa sempurna dalam sila dan mempunyai pandangan terang, teguh dalam Dharma, selalu berbicara benar dan memenuhi segala kewajibannya, maka semua orang akan mencintainya (Dh.217).

Fenomena yang sering terjadi saat ini adalah banyaknya siswa yang sering melanggar pancasila buddhis dalam kegiatan belajarnya, salah satunya adalah kebiasaan mencontek, hal ini jelas termasuk kedalam pelanggaran pancasila buddhis. Beberapa sila yang terlanggar diantaranya sila pertama, sila kedua dan sila keempat. Sila pertama berbunyi Panatippata Veramani Sikkhapadam Sama-diyami yang berarti Aku Bertekad Menghindari Pembunuhan, yang dimaksud disini bukan membunuh secara fisik namun mencontek dapat membunuh karakter seseorang, dengan kebiasaannya yang sering mencontek maka karakter seseorang akan terbentuk menjadi buruk, selalu terbiasa tergantung dengan orang lain, pikirannya selalu terkonsep bahwa mencontek adalah hal kecil yang tidak akan menimbulkan dampak yang besar dalam prilaku belajarnya.

Yang kedua mencontek merupakan pelanggaran sila kedua dalam pancasila buddhis yang berbunyi Adinnadana Veramani Sikkhapadam Sama-Diyami, sila ini berati aku bertekad menghindari pencurian, sudah tertera dengan jelas bahwa mencontek adalah kegiatan meniru pekerjaan atau karya orang lain, kebanyakan siswa lebih suka meniru hasil karya orang lain daripada harus mengerjakan sendiri, membuat ide sendiri para siswa kebanyakan malas dalam mengerjakan tugas, didukung dengan adanya kemajuan teknologi juga memnyebabkan sebagian pelajar mencuri karya orang lain lewat internet, rata-rata dalam mengerjakan tugasnya siswa sering melakukan copy-paste.

Pelanggaran sila yang terakhir adalah pelanggraan pancasila buddhis yang keempat sila ini berbunyi Musavada Veramani Sikkhapadam Sama-Diyami, yang artinya aku bertekad menghindari berucap yang tidak benar, atau dalam istilah lain berbohong. Sangat jelas jika mencontek adalah kegiatan yang didasari dengan kebohongan karena mencontek ini menggunakan pemikiran orang lain bukan hasil dari pemikiran sendiri. Apa yang mereka tulis dan ucapkan bukan karyannya sendiri melainkan karya orang lain.

Kondisi yang seperti yang harusnya ada perbaikan baik dari individual maupun dari pihak yang berwenang kegiatan mencontek memang sepele, tapi jika dibiarkan akan berdampak besar dalam dunia pendidikan. Khususnya pendidikan buddhis praktik lima sila mengarah pada peningkatan pengendalian diri dan kekuatan kepribadian. Pancasila Buddhis membentuk perilaku siswa agar tidak melakukan perbuatan tidak baik yang berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

 Sati
            Sati artinya cetusan keadaan batin, misalnya cetusan batin untuk membaca buku. Dalam pelaksanaan Dhamma dan aktivitas sehari-hari sati dimaksudkan sebagai ingatan, perhatian, kewaspadaan, serta kesadaran sebelum melakukan perbuatan. Lawan dari sati adalah “lupa”. Agar tidak melalaikan pekerjaan karena lupa maka sati harus dijaga setiap saat. Contoh sati dalam kehidupan sehari-hari adalah :
1. Si A ingat bahwa membuang sampah sembarangan adalah karma buruk.

2. Si B ingat bahwa menyelewengkan uang SPP adalah termasuk mencuri.

3. Si C ingat bahwa mencontek adalah perbuatan bodoh, dll.
Sati merupakan factor yang snagta penting untuk mendukung sila (perbuatan baik) seseorang. Orang yang tidak memiliki sati atau kehilangan sati diibaratkan seperti orang yang “sakit jiwa” karena orang yang sakit jiwa Citta (pikiran) nya dapat bekerja, tetapi sati (ingatan) nya tidak dapat bekerja sehingga tidak mempunyai pengendalian diri
.


Sampajanna
Sampajanna yaitu muncul kesadaran ketika sedang melakukan kegiatan. Dhamma ini sangat membantu untuk tumbuhnya kabaikan sama seperti halnya sati. Pada umumnya kesadaran demikian membawa manfaat, misalnya mereka menyadari bahwa mereka sedang melakukan kejahatan dan berusaha melakukan sebaik mungkin serta berhati-hati. Mereka menyadari bahwa mereka sedang berbohong dan berusha agar pembicaraan itu dipercaya oleh orang lain.
Sampajanna yang dimaksudkan disini adalah bukan kesadaran ketika melakukan kejahatan, tetapi kesadran yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Jenis kesadaran ini (sampajanna) adalah bila disertai dengan empat cirri dari Sampajanna yaitu:
1). Menyadari manfaat yang sedang kita lakukan.

2). Menyadari bahwa apa yang sedang kita lakukan sesuai atau tidak dengandiri kita sendiri.

3). Menyadari bahwa apa yang kita lakukan akan menimbulkan suka atau duka.

4). Menyadari bahwa apa yang kita lakukan itu merupakan suatu kebodohan atau didasari pengertian yang benar.
Keempat faktor kesadaran tersebut merupakan faktor dari sampajanna dan memberikan kesadaran bagi kita untuk tidak mengerjakan pekerjaan yang sia-sia, tidak sesuai dengan posisi kita, serta dengan cara yang keliru. Dengan adanya kesadaran ini maka kita dapat menyesuaikan diri dan menambah kebajikan. Bila tidak memiliki kesadaran maka dapat terjadi hal-hal misalnya seperti, murid-murid tidak akan naik kelas jika selalu melamun dan tidak mengerti apa yang diajarkan guru.
Hiri
Hiri bersumber dari dalam diri sendiri, bersifat otonom, timbul sendiri, berbentuk rasa malu, ditandai adanya sifat konsisten dengan kebenaran, sumber subyektif dari hiri adalah pandangan dari ide-ide yang berhubungan dengan kelahiran (misalnya saya lahir dari keluarga baik-baik maka seharusnya malu untuk berbuat jahat), usia (misalnya saya sudah dewasa mka saya malu untuk berbuat kejahatan), kedudukan sosial (misalnya saya adalah seorang pelajar maka saya malu kalau melakukan kejahatan), kehormtan diri (misalnya saya adalah orang yang dihargai masyarakat saya akan malu kalau sya berbuat jahat), dan tingkat pendidikan (misalnya saya adalah orang yang berpendidikan maka saya malu kalau saya melakukan kejahatan).
Maka seseorang yang memilik hiri akan berfikir “hanya orang-orang bodoh, anak-anak dan orang yang tidak perpendidikan yang tidak memiliki rasa malu untuk berbuat jahat”. Oleh karena itu saya akan menghindari pendangan yang salah dan melakukan perbuatan baik. Dengan hiri, seseorang bercermin kepada kehormatan dirinya, kelahirannya, gurunya, kedudukannya, pendidikannya, atau masyarakat dimana berada. Apabila seseorang memiliki hiri, maka dirinya sendirilah yang paling tepat menjadi guru dan pengawasnya yang terbaik.


Ottapa
Ottapa yang berarti memiliki rasa takut untuk berbuat jahat lebih bersumber dan dipengaruhi oleh hal-hal luar diri kita, bersifat heteromus, lebih dipengaruhi oleh lingkungan dan masyarakat. Jika hiri terbentuk oelh rasa malu, tetapi ottapa dibentuk oleh rasa takut. Ottapa ditandai dengan adanya kemampuan mengenal bahaya dan takut melakukan kesalahan.
Sumber eksternal dari ottapa adalah pandangan dan ide-ide bahwa sesuatu yang “berkuasa” akan mempersalahkannya, maka ia menghindari perbuatan yang salah. Dengan ottapa, seseorang takut pada dirinya sendrir, takut dipersalahkan orang lain, dll. Apabila seseorang lebih sensitive terhadap ottapa, maka sebaiknya mengikuti bimbingan dan peraturan dari seseorang ataupun dari suatu ajaran yang baik yang diyakininya.
Perilaku benar menurut padangan agama Buddha pada dasarnya adalah perilaku yang sesuai dengan aturan moral atau sila yaitu pancasila. Untuk menunjang pelaksanaan sila pada diri seseorang. Hiri dan ottapa akan sangat membantu. Hiri adalah perasaan malu, sikap batin yang merasa malu bila melaksanakan kesalahan atau kejahatan.  Ottapa artinya enggan berbuat salah atau jahat. Sikap batin yang merasa enggan atau takut akan akibat perbuatan salah atau jahat yang akan dilakukan. Hiri dan Ottapa merupakan sebab terdekat timbulnya sila.
“… Ada dua hal yang jelas, oh Bhikkhu, untuk melindungi dunia. Malu dan takut, bila kedua dhamma ini tidak menjadi pelindung dunia, maka seseorang tidak akan mengharagai ibunya, tidak menghargai bibinya, tidak menghargai kakak iparnya, tidak menghargai istri gurunya…” (Anguttara nikaya II, 7).

Jika seseorang memiliki rasa malu untuk berbuat jahat niscaya sekecil apapun perbuatan yang dilakukan akan disertai kehati-hatian, ia selalu menjaga dengan penuh kewaspadaan agar apapun yang dilakukan tidak membuatnya tercela. Demikian pula jika seseorang memiliki rasa takut akan akibat dari perbuatan jahat maka segala perbuatan yang dilakukan sekecil apapun akan selalu mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan sehingga pikiran, ucapan dan perbuatannya tidak merugikan siapapun. Dalam Dhammapada dituliskan akibat dari melakukan kejahatan adalah penderitaan. Buddha bersabda:
“… semua orang takut akan hukuman, semua orang takut akan akan kematian. Setelah membandingkan orang lain dengan dirinya, hendaklah seseorang tidak membunuh atau menyebabkan terjadinya pembunuhan …” “(Dhammapada.129)

Berbagi
0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *