Hidup Bersama Pasangan yang Ideal menurut Pandangan Agama Buddha (4+1)

Read Time:7 Minute, 33 Second
Hidup Bersama Pasangan yang Ideal menurut Pandangan Agama Buddha (4+1)

Hidup Bersama Pasangan yang Ideal menurut Pandangan Agama Buddha (4+1)

Berbagi

Bagaimana kabarnya hari ini?
Semoga hari Anda sekalian senantiasa berbahagia.

Topik yang akan dibahas kali ini adalah hidup bersama pasangan yang ideal menurut pandangan Agama Buddha.

Topik tersebut dipilih karena hampir semua orang menginginkan hidup bersama pasangan yang ideal. Akan tetapi, banyak diantara kita yang belum mengetahui cara memerolehnya. Kita terlalu sibuk mencari tanpa memerhatikan kualitas diri yang kita miliki.

Semua orang bebas menentukan seperti apa kriteria pasangan hidup yang ideal menurut persepsinya masing-masing. Meskipun demikian, sebagai Umat Buddha, sudah seharusnya kita mengetahui kriteria pasangan hidup yang ideal berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh Buddha ribuan tahun yang lalu.

Bagaimana hidup bersama pasangan yang ideal menurut Buddha?

Jawaban dari pertanyaan di atas termuat dalam Anguttara Nikaya, Jilid 2, Buku Kelompok 4 (Catukkanipata), Hidup Bersama (53 dan 55).

Mari kita simak dengan seksama mengenai hal tersebut.

53 (3) Hidup Bersama (1)
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang melakukan perjalanan di sepanjang jalan raya antara Madhura dan Verañja. Sejumlah perumah tangga laki-laki dan perempuan juga sedang melakukan perjalanan di jalan yang sama. Kemudian Sang Bhagava meninggalkan jalan raya dan duduk di bawah sebatang pohon. Para perumah tangga laki-laki dan perempuan itu melihat Sang Bhagava duduk di sana dan mendatangi Beliau, memberi hormat kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada mereka:

“Para perumah tangga, ada empat cara hidup bersama ini. Apakah empat ini?

Seorang malang hidup bersama dengan seorang malang;

Seorang malang hidup bersama dengan dewi;

Dewa hidup bersama dengan seorang malang;

Dewa hidup bersama dengan dewi.

(1) “Dan bagaimanakah, para perumah tangga, seorang malang hidup bersama dengan seorang malang? Di sini, sang suami adalah seorang yang membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan hubungan seksual yang salah, berbohong, dan menikmati minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan; ia tidak bermoral, berkarakter buruk; ia berdiam di rumah dengan pikiran dikuasai oleh noda kekikiran; ia menghina dan mencela para petapa dan brahmana. Dan istrinya juga adalah seorang yang membunuh… ia menghina dan mencela para petapa dan brahmana. Adalah dengan cara ini seorang malang hidup bersama dengan seorang malang.

(2) “Dan bagaimanakah, para perumah tangga, seorang malang  hidup bersama dengan dewi? Di sini, sang suami adalah seorang yang membunuh … ia menghina dan mencela para petapa dan brahmana. Tetapi istrinya adalah seorang yang menghindari membunuh, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari hubungan seksual yang salah, menghindari berbohong, dan menghindari minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan; ia bermoral dan berkarakter baik; ia berdiam di rumah dengan pikiran yang bebas dari noda kekikiran; ia tidak menghina dan tidak mencela para petapa dan brahmana. Adalah dengan cara ini seorang malang hidup bersama dengan dewi.

(3) “Dan bagaimanakah, para perumah tangga, dewa hidup bersama dengan seorang malang? Di sini, sang suami adalah seorang yang menghindari membunuh … ia tidak menghina dan tidak mencela para petapa dan brahmana. Tetapi istrinya adalah seorang yang membunuh … ia menghina dan mencela para petapa dan brahmana. Adalah dengan cara ini dewa hidup bersama  dengan seorang malang.

(4) “Dan bagaimanakah, para perumah tangga, dewa hidup bersama dengan dewi? Di sini, sang suami adalah seorang yang menghindari membunuh … ia tidak menghina dan tidak mencela para petapa dan brahmana. Dan istrinya juga adalah seorang yang menghindari membunuh … ia tidak menghina dan tidak mencela para petapa dan brahmana. Adalah dengan cara ini dewa hidup bersama dengan dewi.

“Ini adalah keempat cara hidup bersama itu.”

Ketika keduanya tidak bermoral, kikir dan kasar,
suami dan istri hidup bersama sebagai orang-orang malang.

Sang suami tidak bermoral, kikir dan kasar,
tetapi istrinya bermoral, murah hati, dermawan.
Ia adalah dewi yang hidup bersama dengan suami malang.

Sang suami adalah bermoral, murah hati, dermawan,
tetapi istrinya tidak bermoral, kikir dan kasar.
Ia adalah seorang malang yang hidup bersama dengan suami dewa.

Suami dan istri keduanya memiliki keyakinan,
murah hati dan terkendali oleh diri sendiri,
menjalani hidup mereka dengan kebaikan,
saling menyapa satu sama lain dengan kata-kata yang menyenangkan.

Maka banyak manfaat mendatangi mereka dan mereka berdiam dengan nyaman.
Musuh-musuh mereka menjadi kecewa ketika keduanya setara dalam moralitas.

……….
55 (5) Sama dalam Hidup (1)
……….
 “Perumah-tangga, jika baik istri maupun suami ingin dapat saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang, maka mereka harus memiliki keyakinan yang sama, perilaku bermoral yang sama, kedermawanan yang sama, dan kebijaksanaan yang sama. Maka  mereka akan dapat senantiasa saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang.”

[Anguttara Nikaya, Jilid 2, Buku Kelompok 4 (Catukkanipata), Hidup Bersama (53 dan 55)]
(Halaman 84-88. Sumber : DhammaCitta Press)

Berdasarkan sumber diatas, dapat disimpulkan bahwa ada 4 jenis perumpamaan mengenai hidup bersama pasangan yang ideal, yaitu pasangan antara :

  1. Pria yang malang dengan Wanita yang malang
  2. Pria yang malang dengan Seorang Dewi
  3. Seorang Dewa dengan Wanita yang malang
  4. Seorang Dewa dengan Seorang Dewi

Tentu saja, kita semua tentu nantinya menginginkan kategori hidup bersama pasangan seperti dewa dengan dewi. Akan tetapi, dalam kehidupan yang nyata, sering kali kita temui, ketiga perumpamaan yang lainnya. Hal itu, karena semua didasarkan oleh yang namanya “Cinta yang keliru”. Mengapa dikatakan demikian? Karena banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari bahwa pasangannya dikenal bukan sebagai orang yang baik. Bahkan teman-teman hingga keluarga telah menasihati agar tidak meneruskan hubungannya. Akan tetapi, karena didasarkan oleh “Cinta yang keliru”, orang tersebut tetap mempertahankan hubungannya. Akhirnya akan berujung pada “Cinta……,Derita tiada akhir”

Well, kita kembali ke topik semula, yaitu Hidup Bersama Pasangan yang Ideal menurut Pandangan Agama Buddha (4+1)

Hidup bersama dengan pasangan yang ideal menurut Buddha akan terwujud apabila memiliki beberapa kesamaan, yaitu kesamaan Saddha (Keyakinan), Sila (Perilaku Bermoral), Caga (Kedermawanan/Kemurahan Hati), dan Pañña (Kebijaksanaan). Bahkan, mereka akan dapat senantiasa saling bertemu satu sama lain bukan hanya dalam kehidupan ini tetapi juga dalam kehidupan mendatang apabila memiliki kesamaan tersebut. Lebih lanjut, akan dijelaskan satu demi satu poin tersebut.

1. Keyakinan (Saddha)
Buddha tidak mengatakan bahwa memiliki keyakinan yang sama artinya keduanya harus sama-sama beragama Buddha. Beliau menekankan bahwa keduanya dikatakan memiliki keyakinan yang sama terhadap hal-hal mendasar dengan didasari oleh pikiran dan pandangan yang benar. Salah satunya adalah prinsip hukum karma. Sebagai mana benih perbuatan yang ditanam, seperti itu juga buah perbuatan yang akan diperoleh. Akan tetapi, menurut penulis, idealnya adalah yang memiliki agama yang sama. Sehingga, terhindar dari persoalan mengenai pembinaan agama untuk keturunan yang mereka miliki nantinya. Selain itu, keharmonisan dalam rumah tangga pun akan timbul karena tidak ada pihak yang saling memaksakan ajaran agama masing-masing.

2.Perilaku Bermoral (Sila)
Poin selanjutnya setelah memiliki kesamaan keyakinan adalah kesamaan perilaku yang bermoral (Sila). Sebagai umat Buddha, sudah seharusnya minimal kita melaksanankan 5 latihan sila dalam kehidupan sehari-hari. Kelima latihan sila tersebut dikenal sebagai Pancasila Buddhist, yaitu bertekad melatih diri untuk menghindari : Pembunuhan makhluk hidup, pengambilan barang yang tidak diberikan (mencuri), berbuat asusila, berbohong, dan mengonsumsi minuman keras (mabuk-mabukan). Dengan demikian, kehidupan berumah tangga dengan pasangan hidup kita pun akan menjadi lebih harmonis dan terhindar dari masalah-masalah yang timbul dari kecurigaan antarpasangan.

3.Kedermawanan/Kemurahan Hati (Caga)
Setelah memiliki kesamaan keyakinan dan perilaku yang bermoral, kedua belah pihak juga harus memiliki kesamaan dalam kedermawanan/murah hati. Caga yang dimaksudkan bukan hanya sekedar keduanya gemar berdana, melainkan lebih menekankan aspek kemurahan hati sehingga keduanya dapat saling memahami bahwa hal yang terpenting adalah membahagiakan pasangan tanpa syarat. Sehingga, bebas dari segala tuntutan dan yang lainnya karena kedua belah pihak telah mengetahui bagaimana mereka seharusnya bersikap sesuai dengan Dhamma (Ajaran Buddha).

4.Kebijaksanaan (Pañña)
Poin terakhir menurut Buddha yang dibutuhkan untuk mendapatkan pasangan hidup yang ideal adalah memiliki kesamaan kebijaksanaan (Pañña). Apa itu kebijaksanaan? Kebijaksanaan adalah kesadaran yang dimiliki oleh seseorang untuk membedakan mana perbuatan yang buruk, dan mana perbuatan yang baik. Tentu saja, kesamaan kebijaksanaan yang dimaksud didasarkan oleh Dhamma (Ajaran Buddha). Apabila kedua belah pihak memiliki kesamaan kebijaksanaan, maka permasalahan yang timbul akan mudah diselesaikan karena memiliki wawasan dan persepsi yang sama. Sehingga, tidak dibutuhkan adu argumentasi yang melelahkan untuk memutuskan suatu hal. Kebahagiaan dalam kehidupan bersama akan mudah dirasakan jika hidup sesuai dengan Dhamma.

Keempat hal tersebutlah yang digunakan sebagai kriteria menentukan pasangan hidup yang ideal menurut Buddha sehingga nantinya akan menghasilkan kategori pernikahan dewa dengan dewi. Walaupun demikian, penulis menambahkan satu syarat mutlak untuk mencari pasangan hidup yang ideal. Apakah syarat mutlak itu ?

……………………………….

Syarat kelima yang mutlak dan paling penting sebagai cara untuk memilih pasangan yang ideal adalah “HARUS SAMA-SAMA MAU!!!” (Kita tidak boleh memaksakan kehendak )

Karena itulah judul tulisan ini, yaitu Pasangan Hidup yang Ideal menurut Pandangan Agama Buddha (4+1). 4 bersumber dari Buddha + 1 bersumber dari sharing dhamma yang penulis alami

Hal yang perlu direnungkan juga, selain kriteria dan tips memilih pasangan dalam diri masing-masing adalah “Sudahkah kita memiliki kualitas diri yang pantas untuk pasangan ideal kita?”

Marilah kita bersama-sama tumbuh dan mengembangkan kualitas diri  menjadi pribadi yang ideal sehingga kita pantas mendapatkan pasangan yang ideal pula.

Demikianlah hal yang dapat penulis sampaikan di kesempatan ini, semoga bermanfaat untuk semua pihak. Semoga yang membaca tulisan ini dipertemukan dengan pasangan idealnya.

Akhir kata, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta (Semoga semua makhluk berbahagia)

Sadhu..Sadhu…Sadhu….

Berbagi
0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *