BOLEHKAH BHIKKHU BERSUJUD KEPADA ORANG TUA YANG MASIH UMAT AWAM

Read Time:5 Minute, 21 Second
BOLEHKAH BHIKKHU BERSUJUD KEPADA ORANG TUA YANG MASIH UMAT AWAM

BOLEHKAH BHIKKHU BERSUJUD KEPADA ORANG TUA YANG MASIH UMAT AWAM

Berbagi
Belakangan ini trend di sebuah grup media sosial Buddhis sebuah foto bhikkhu yang bersujud
kepada seorang nenek yang mungkin merupakan ibu kandungnya. Foto ini menjadi pro-kontra ketika
ditanggapi seorang Bhiksu karena dianggap tidak selayaknya seorang sramana (pali: Samana, petapa) sujud kepada seorang umat awam.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah: BOLEHKAH SEORANG
BHIKKHU BERSUJUD KEPADA ORANG TUANYA YANG MASIH UMAT AWAM?Sebagaimana diketahui, budaya penghormatan sangat dijunjung dalam Buddhisme, bahkan
dikatakan oleh Buddha sendiri dalam Saṃyutta Nikāya 6.2 Gārava Sutta bahwa ‘Seseorang akan berdiam dalam penderitaan jika ia adalah seorang yang tidak memiliki penghargaan dan rasa hormat’. Mari kita
mengawali dari sebuah petikan Dhamma yang sangat terkenal di kalangan Buddhis: ‘Pūjā ca
pūjaneyyānaṃ, etaṃ maṅgalamuttamaṃ – Menghormat kepada yang patut dihormat, itulah berkah utama’ (Khuddakapāṭha 5. Maṅgala Sutta).
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagi siapakah penghormatan yang layak diberikan? Sang Buddha dalam Saṃyutta Nikāya 7.15 Mānatthaddha Suttamenjelaskan hal ini kepada perumah tangga Brahmana Mānatthaddha:
“Pertama, ibu dan ayah sendiri, Kemudian saudara kandung yang lebih tua, Kemudian gurunya
sebagai yang keempat: Kepada orang-orang ini ia seharusnya menghindari keangkuhan; Kepada orang-
orang ini ia seharusnya menghormat; Orang-orang ini seharusnya dihormati dengan baik; Orang-orang
ini, adalah baik sekali dihormati secara mendalam. Setelah menaklukkan keangkuhan, rendah hati,
Seseorang harus memberi hormat kepada para Arahant, Mereka yang berhati sejuk, tugas-tugasnya
telah selesai, Yang tanpa-noda, tiada bandingnya.” Artinya dari Sutta ini diketahui bahwa sebagai umat awam terlebih dahulu orang tua sendiri yang perlu dihormati. Akan tetapi hal ini akan berbeda jika seseorang telah menjadi Bhikkhu yang terikat peraturan monastik.
Dalam Vinaya Khandhaka 16 Senāsanakkhandhaka, Buddha mengatakan kepada para bhikkhu
bahwa ada 10 orang yang tidak seharusnya diberikan sikap penghormatan (yang dimaksud dalam
khandaka ini: menyambut, beranjali, bersujud, dan melakukan tugas-tugas lain dengan tujuan
penghormatan) bagi seorang bhikkhu, dan salah satunya adalah orang yang tidak ditahbiskan dan
seorang wanita. Jadi sangat jelas alasan mengapa para bhikkhu tidak diperkenankan bersujud bahkan
kepada orang tuanya sendiri yang masih menyandang status umat awam, semata-mata karena mereka
memenuhi peraturan vinaya. Hanya saja dalam khandhaka ini tidak dijelaskan sanksi apa yang menanti
jika seorang bhikkhu melakukannya, yang pasti ini termasuk pelanggaran tindakan salah (dukkata).
Buddha sendiri dalam turunan peraturan Pacittiya 54 Anādariyasikkhāpadaṃ menekankan kepada para
bhikkhu ketika diingatkan sehubungan dengan dhamma dan vinaya untuk bersikap hormat, sekalipun
yang mengingatkannya adalah seorang yang tidak ditahbiskan, jika tidak ia melanggar peraturan
tindakan salah (dukkata), sehingga jika orang tua bhikkhu tersebut mengingatkannya soal Dhamma, ia
harus bersikap hormat selayaknya, konteksnya lebih kearah menghormati ucapannya.
Meskipun demikian Buddha sendiri memuji apabila seorang Bhikkhu menyokong orang tuanya
yang telah papa dan tidak mampu lagi menghidupi dirinya sendiri, tercatat dalam Jātaka Aṭṭhakathā 385 Nandiyamiga Jātaka, dan Jātaka Aṭṭhakathā 484 Sālikedāra Jātaka bahwa Buddha memuji seorang
bhikkhu yang menghidupi ibu dan ayahnya. Bahkan dalam Jātaka Aṭṭhakathā 540 Sāma Jātaka
dikisahkan dengan latar belakang yang lebih luas, namun secara singkatnya adalah sebagai berikut:
Seorang bhikkhu yang telah meninggalkan keduniawian mengetahui bahwa kedua orang tuanya telah
kehilangan semua kekayaan hingga menjadi melarat dan papa, ia pun menjaga orang tuanya serta menyokongnya dengan pergi berpindapatta dan memberikan bubur gandum hasil dari pindapatta kepada mereka. Para bhikkhu yang mengetahuinya mencela tindakannya karena sebagai bhikkhu
menyokong umat awam dan akhirnya membawanya pada Sang Buddha. Ternyata Sang Buddha malah memuji tindakan bhikkhu tersebut dan menyatakan bahwa ia melakukan apa yang beliau lakukan di masa lampau. Bahkan dalam Vinaya Khandhaka 8 Cīvarakkhandhaka, Sang Buddha mengizinkan bhikkhu
untuk memberikan bahan jubah kepada orang tuanya ketika ia berkelimpahan bahan jubah, hanya saja
Buddha memberi catatan bahwa pemberian atas dasar keyakinan tidak boleh disia-siakan, barang siapa
menyia-nyiakannya merupakan pelanggaran tindakan salah (dukkata). Artinya adalah bhikkhu tersebut
harus mengetahui dengan jelas bahwa bahan jubah tersebut benar-benar dibutuhkan orang tuanya dan tidak disia-siakan.
Selain itu bhikkhu sebagai manusia tidak boleh bersikap kasar, emosional, dan kejam. Dalam
Jātaka Aṭṭhakathā 149 Ekapaṇṇa Jātaka Sang Buddha menasihati pangeran Licchavi: Manusia tidak
boleh kasar, emosional, dan kejam, orang yang bengis adalah orang yang kasar dan kejam, baik kepada
ibu yang membesarkannya, kepada ayah dan anaknya, kepada saudara lelaki dan perempuannya,
kepada istrinya, teman-teman dan kerabatnya. Turunan dari peraturan Pacittiya 74 Pahārasikkhāpadaṃ
menyatakan jika karena marah dan tidak senang, seorang bhikkhu memukul seseorang yang belum
ditahbiskan ia melakukan pelanggaran tindakan salah (dukkata). Bahkan dalam turunan peraturan
Pacittiya 75 Talasattikasikkhāpadaṃ menyatakan bahwa ketika bhikkhu baru mengancam menyakiti
orang yang belum ditahbiskan dengan mengangkat tangannya saja sudah masuk pelanggaran tindakan
salah (dukkata).
Meskipun seseorang telah menjadi Bhikkhu, ia belum bisa membalas jasa orang tuanya. Karena
Buddha sendiri dalam Aṅguttara Nikāya 2.33 menyatakan sekalipun seseorang mengangkat kedua orang
tuanya di kiri-kanan bahunya selama 100 tahun melayani mereka dengan cara meminyaki mereka
dengan balsam, dengan cara memijat mereka, memandikan mereka, dan menggosok bagian-bagian tubuh mereka, dan mereka bahkan membuang kotoran dan air kencing mereka di sana, ia masih tetap
belum cukup melakukan untuk kedua orangtuanya, juga belum membalas mereka, Buddha menegaskan
karena orang tua adalah bantuan besar bagi anak-anak mereka; mereka membesarkan anak-anak
mereka, memberi mereka makan, dan menunjukkan dunia ini kepada mereka. Tetapi ketika seseorang
baik umat awam ataupun samana (petapa) mampu membuat orang tuanya yang semula tidak
berkeyakinan, tidak bermoral, kikir, dan tidak bijaksana, menjadi berkeyakinan (saddha), bermoral (sila),
dermawan (cagga), dan berkebijaksanaan (panna), maka ia dikatakan telah membalas jasa kedua orang
tuanya.

Oleh: MajaPutera Karniawan, CHC®., CCDd® dan Arya Whisnu Karniawan, S.PdJumat, 20 November 2020

Daftar PustakaAndayani (Penerjemah). 2019. SUTTAPIṬAKA KHUDDAKANIKĀYA JĀTAKA Volume I. Cetakan Kedua, Editor Paula Kelana. Medan – Sumatera Utara. Indonesia Tipitaka Center (ITC).Suttacentral.net (Legacy version). 2016. Aṅguttara Nikāya. Diakses 20 November 2020. http://legacy.suttacentral.net/an____________. 2016. Pāli Theravāda Vinaya Khandhaka. Diakses 20 November 2020. http://legacy.suttacentral.net/pi-tv-kd____________. 2016. Saṃyutta Nikāya. Diakses 20 November 2020. http://legacy.suttacentral.net/snTasfan Santacitta (Penerjemah). 2012. SUTTAPIṬAKA KHUDDAKANIKĀYA JĀTAKA Volume VI.Cetakan 1, Editor Drs. Handaka Vijjānanda, Apt., Penyelia Naskah Bhikkhu Dharmasurya Bhūmi Mahāthera. Medan – Sumatera Utara. Indonesia Tipitaka Center (ITC). Thamrin, Chaidir (Penerjemah). 2018. VINAYA-PIṬAKA Volume III (SUTTAVIBHAṄGA). Medan. Penerbit INDONESIA TIPITAKA CENTER (ITC).____________. 2012. VINAYA-PIṬAKA Volume II (SUTTAVIBHAṄGA). Medan. Penerbit INDONESIA TIPITAKA CENTER (ITC).Wijaya, Johan. 2006. SUTTAPIṬAKA KHUDDAKANIKĀYA JĀTAKA Volume IV. Cetakan 1, Editor Paula Kelana. Medan – Sumatera Utara. Indonesia Tipitaka Center (ITC).____________. 2009. SUTTAPIṬAKA KHUDDAKANIKĀYA JĀTAKA Volume V. Cetakan Edisi Revisi II, Editor Hendry Filcozwei Jan. Medan – Sumatera Utara. Indonesia Tipitaka Center (ITC).Wijaya, Wisnu (Penerjemah). 2019. VINAYA-PIṬAKA Volume IV (MAHĀVAGGA). Medan. Penerbit INDONESIA TIPITAKA CENTER (ITC).

Berbagi
0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *